KARAKTER

Ketika seseorang kehilangan hartanya, sebenarnya ia tidak kehilangan apapun.
Ketika ia kehilangan kesehatannya,
ia baru kehilangan sesuatu.
Tetapi ketika ia kehilangan karakter,
ia pasti kehilangan semuanya

Jagalah karaktermu, krn itulah yg akn membentuk nasibmu

Iklan

Membuat tulisan

Proses pembuatan tulisan:
1. Cari ide atau topik.
2. Tentukan benang merah atau sudut pandang.
3. Rancang kerangka konsep atau draf.
4. Kumpulkan bahan.
5. Buat dan sunting tulisan.

Yang terpenting, mulailah langkah kelima secepatnya. Jangan buang waktu.

CTV direct

CTV Foot :
IV no.20 (di vena pedis)
Stuing di atas ankle dan paha atas
Kontras : 50ml + 100 Nacl (mix dalam 1 syringe)
Saline : 50ml (syringe B)
Flow : 3ml/sec
Scan time = durasi injeksi syringe A
Delay 20 sec
Scan Caudocranial

CTV Upper Ext :
IV no.20 (di vena dorso manus)
Stuing di bawah cubiti dan ketiak
Kontras : 35ml + 60 Nacl (mix dalam 1 syringe)
Saline : 50ml (syringe B)
Flow : 2.5ml/sec
Scan time = durasi injeksi syringe A
Delay 8 sec
Scan Caudocranial

Pasien HD; BB: 69 kg.klinis DVT ext atas kanan; terpasang CDL; akses IV line Di ankle. Dipasang iv line ke-2 IV no.22 (Di venandorso Manus digiti 1). Pasien oedem Jadi gak dipasang stuing. Kontras : 50ml, saline : 15ml konsentrate kontras 370; FR : 1 ml/s ST = 23s delay 8 sec. HU 70: scan Caudocranial. Posisi pasien Feet First.

CT RATIO

Pengukuran atau pendeteksian arus listrik merupakan salah satu dari parameter utama yang diperlukan dalam kelistrikan. Misalkan untuk pengukuran arus yang besar, pengukuran dayadan sebagai parameter proteksi.

Current Transformer atau CT adalah salah satu type trafo instrumentasi yang menghasilkan arus di sekunder dimana besarnya sesuai dengan ratio dan arus primernya. Ada 2 standart yang paling banyak diikuti pada CT yaitu : IEC 60044-1 (BSEN 60044-1) & IEEE C57.13(ANSI), meskipun ada juga standart Australia dan Canada.

CT umumnya terdiri dari sebuah inti besi yang dililiti oleh konduktor beberapa ratus kali. Output dari skunder biasanya adalah 1 atau 5 ampere, ini ditunjukan dengan ratio yang dimiliki oleh CT tersebut. Misal 100:1, berarti sekunder CT akan mengeluarkan output 1ampere jika sisi primer dilalui arus 100 Ampere. Jika 400:5, berarti sekunder CT akan mengeluarkan output 5 ampere jika sisi primer dilalui arus 400 Ampere. Dari kedua macam output tersebut yang paling banyak ditemui, dipergunakan dan lebih murah adalah yang 5 ampere.

Pada CT tertulis class dan burden, dimana masing masing mewakili parameter yang dimiliki oleh CT tersebut. Class menunjukan tingkat akurasi CT, misalnya class 1.0 berarti CT tersebut mempunyai tingkat kesalahan 1%. Burden menunjukkan kemampuan CT untuk menerima sampai batas impedansi tertentu. CT standart IEC menyebutkan burden 1.5 VA (volt ampere), 3 VA, 5 VA dst. Burden ini berhubungan dengan penentuan besar kabel dan jarak pengukuran.

Aplikasi CT selain disambungkan dengan alat meter seperti ampere meter, KW meter CosPhi meter dll, sering juga dihubungkan dengan alat proteksi arus. Dengan mempergunakan bermacam ratio CT didapatkan proteksi arus dengan beragam range ampere hanya dengansatu unit proteksi arus. Yang perlu dipersiapkan adalah unit proteksi arus dengan range dibawah 5 ampere dan CT dengan ratio XXX:5. Misal unit proteksi mempunyai range 0,5 ~ 5 Amp, dengan mempergunakan CT dengan ratio 1000:5 maka range proteksi arus yang bisa dijangkau adalah 100 ~ 1000 Amp.

Perhitungannya adalah sebagai berikut :

Range : 0,5 ~ 5 Amp

Ratio CT : 1000/5: 200

Range dengan CT : (0,5 X 200) ~ (5 X 200) Amp

: 100 ~ 1000 Amp

Untuk sistem tenaga listrik berdaya besar diperlukan CT untuk merubah nilai nominal arus sistem menjadi lebih kecil sehingga bisa terbaca oleh peralatan proteksi ataupun pengukuran (metering). Peralatan proteksi dan metering tersebut biasanya hanya menerima nilai arus dengan dua nilai nominal yaitu 0-1A (untuk kelas peralatan 1A) dan 0-5A (untuk kelas peralatan 5A).

Peralatan proteksi dan metering hanya akan membaca nilai keluaran CT (dari terminal sekunder CT) kemudian menghitung/merubahnya kembali sebagai pembacaan sisi primer (nilai arus yang mengalir sebenarnya). Nilai perhitungan yang dilakukan oleh peralatan proteksi dan metering didasarkan pada nilai rasio dari sebuah CT.

Ratio CT, rasio CT merupakan spesifikasi dasar yang harus ada pada CT, dimana representasi nilai arus yang ada di lapangan di hitung dari besarnya rasio CT. Misal CT dengan rasio 2000/5A, nilai yang terukur di skunder CT adalah 2.5A, maka nilai aktual arus yang mengalir di penghantar adalah 1000A. Kesalahan rasio ataupun besarnya presentasi error (%err.) dapat berdampak pada besarnya kesalahan pembacaan di alat ukur, kesalahan penghitungan tarif, dan kesalahan operasi sistem proteksi.

Burden atau nilai maksimum daya (dalam satuan VA) yang mampu dipikul oleh CT. Nilai daya ini harus lebih besar dari nilai yang terukur dari terminal skunder CT sampai dengan koil relay proteksi yang dikerjakan. Apabila lebih kecil, maka relay proteksi tidak akan bekerja untuk mengetripkan CB/PMT apabila terjadi gangguan.

Class, kelas CT menentukan untuk sistem proteksi jenis apakah core CT tersebut. Misal untuk proteksi arus lebih digunakan kelas 5P20, untuk kelas tarif metering digunakan kelas 0.2 atau 0.5, untuk sistem proteksi busbar digunakan Class X atau PX.

Kneepoint, adalah titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi tegangan. Umumnya proteksi busbar menggunakan tegangan sebagai penggerak koilnya. Tegangan dapat dihasilkan oleh CT ketika skunder CT diberikan impedansi seperti yang tertera pada Hukum Ohm. Kneepoint hanya terdapat pada CT dengan Class X atau PX. Besarnya tegangan kneepoint bisa mencapai 2000Volt, dan tentu saja besarnya kneepoint tergantung dari nilai atau desain yang diinginkan.

Secondary Winding Resistance (Rct), atau impedansi dalam CT. Impedansi dalam CT pada umumnya sangat kecil, namun pada Class X nilai ini ditentukan dan tidak boleh melebihi nilai yang tertera disana. Misal: <2.5Ohm, maka impedansi CT pada Class X tidak boleh lebih dari 2.5Ohm atau CT tersebut dikembalikan ke pabrik untuk dilakukan penggantian.

Pemilihan Rasio CT

Untuk menentukan besaran nilai CT yang akan digunakan, seorang perancang harus mengetahui nilai beban penuh dari sistem pembangkitan, transmisi maupun distribusi.

Sebagai contoh :

Terdapat sebuah pembangkit 150kV dengan daya nominal 60MVA, maka nilai CT yangdigunakan adalah?

Jawab: diketahui: Un= 150.000V,

Pn= 60.000.000VA,

maka In= Pn/Un = 60.000VA / 150000V dan hasilnya adalah 400A (untuk nilai primer CT)

Apabila nilai nominal arus primer CT (fullscale) sudah diketahui, maka selanjutnya adalah pemilihan nilai nominal arus sekunder CT. Nilai nominal arus sekunder CT harus disesuaikan dengan kelas peralatan yang akan digunakan. Apabila peralatan menggunakan kelas input arus 5A maka rasio CT yang dipilih adalah 400/5A, demikian juga untuk peralatan dengan kelas input arus 1A maka rasio CT adalah 400/1A.

Pembacaan Rasio CT

Pada CT dengan rasio 400/5A berarti CT harus mengeluarkan nilai arus sebesar + 5A padasisi sekundernya apabila sisi primer CT dialiri arus sebesar + 400A (besar kecil tegangan primer tidak mempengaruhi arus CT). Kemudian jika di terminal sekunder CT terukur arus sebesar 3.26A maka berapakah nilai primer CT yang sesungguhnya?

Jawab: diketahui: Ip/Is = 400/5A,

Is (aktual) = 3.26

maka nilai IP (aktual) = 3.26 x (400/5) dan hasilnya adalah Ip (aktual) = 260.8A

Akurasi Rasio CT

Setiap CT mempunyai akurasi kelas kesalahan pembacaan (%error) yang berbeda-beda. Semakin kecil nilai kesalahan pembacaan (%error) CT maka semakin baik kelas akurasi sebuah CT. Apabila terdapat CT baru dari pabrikan dengan spesifikasi rasio 400/5 dan kelas akurasi 0,5. Maka berapakah nilai yang diijinkan agar CT tersebut dapat digunakan?

Jawab: Sesuai standar IEC, bahwa injeksi arus untuk pengetesan ratio CT boleh dilakukan mulai dari10% (mengingat jarangnya peralatan test yang mempunyai nilai arus keluaran yang besar, jika pun ada tentunya akan menyulitkan proses instalasi peralatan test dari segi berat, kabel yang digunakan, ukuran, dll.). Maka disini, sisi primer CT dapat diinjeksi arus senilai 40A (minimal).

Diketahui: Ip/Is = 400/5,

Ip (act.) = 40A

maka Is = 40A x (400/5A) dan hasilnya adalah = 0.5A, untuk nilai error sebesar 0,5% maka hasil pengukuran arus pada terminal CT sekunder tersebut tidak boleh melebihi dari 0.5025A atau kurang dari 0.4975A.

~NI NYOMAN LENI AGUSTRIANI(011609058)

Anatomi Mata

Mata merupakan alat indra yang terdapat pada manusia. Secara konstan mata menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak.

Struktur dan fungsi mata. mata kita terdiri dari bermacam-macam struktur sekaligus dengan fungsinya. struktur dari mata itu sendiri atau bisa di sebut dengan anatomi mata meliputi Sklera, Konjungtiva, Kornea, pupil, iris, lensa, retina, saraf optikus, Humor aqueus, serta Humor vitreus yang masing-masingnya memiliki fungsi atau kerjanya sendiri. aku bahas satu-satu aja kali yah mengenai struktur dan fungsi mata, dimana masing-masing dari struktur mata mempunyai Fisiologi mata itu sendiri. Berikut Struktur mata beserta fisiologisnya :

1. 1. Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata yang berwarna putih dan relatif kuat.

Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera.

Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.

Pupil : daerah hitam di tengah-tengah iris.

Iris : jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil.

Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina.

Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak.

Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak.

Humor aqueus : cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh prosesus siliaris.

Humor vitreus : gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata).

Cahaya yang masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Iris mengatur jumlah cahaya yang masuk dengan cara membuka dan menutup, seperti halnya celah pada lensa kamera. Jika lingkungan di sekitar gelap, maka cahaya yang masuk akan lebih banyak; jika lingkungan di sekitar terang, maka cahaya yang masuk menjadi lebih sedikit. Ukuran pupil dikontrol oleh otot sfingter pupil, yang membuka dan menutup iris. Lensa terdapat di belakang iris. Dengan merubah bentuknya, lensa memfokuskan cahaya ke retina. Jika mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otot silier akan berkontraksi, sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Jika mata memfokuskan pada objek yang jauh, maka otot silier akan mengendur dan lensa menjadi lebih tipis dan lebih lemah. Sejalan dengan pertambahan usia, lensa menjadi kurang lentur, kemampuannya untuk menebal menjadi berkurang sehingga kemampuannya untuk memfokuskan objek yang dekat juga berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia.

Retina mengandung saraf-saraf cahaya dan pembuluh darah. Bagian retina yang paling sensitif adalah makula, yang memiliki ratusan ujung saraf. Banyaknya ujung saraf ini menyebabkan gambaran visuil yang tajam. Retina mengubah gambaran tersebut menjadi gelombang listrik yang oleh saraf optikus dibawa ke otak. Saraf optikus menghubungkan retina dengan cara membelah jalurnya. Sebagian serat saraf menyilang ke sisi yang berlawanan pada kiasma optikus (suatu daerah yang berada tepat di bawah otak bagian depan). Kemudian sebelum sampai ke otak bagian belakang, berkas saraf tersebut akan bergabung kembali.

Putu Abhi Brahmarta (011609045)

Sejarah Awal Pengolahan Citra

Sejarah Awal Pengolahan Citra

Pada awal tahun 1921 pada waktu itu sebuah foto pertama kalinya berhasil ditransmisikan secara digital melalui kabel laut dari kota New York ke kota London (Bartlane Cable Picture Transmision System). Keuntungan utama yang dirasakan pada waktu itu adalah pengurangan waktu pengiriman foto dari sekitar satu minggu menjadi kurang dari 3 jam. Foto 7 tersebut dikirim dalam bentuk kode digital, selanjutnya diubah kembali oleh suatu printer telegraph pada sisi penerima. Masalah yang muncul pada saat itu berkisar pada teknik transmisi data secara digital serta teknik reproduksi pada sisi penerima untuk mendapatkan satu resolusi gambar yang baik. Walaupun minat dalam bidang ini telah dimulai sejak tahun 1921, tetapi perkembangannya secara pesat baru tercatat pada sekitar tahun 1960. Pada saat itu teknologi computer telah dianggap memenuhi suatu kecepatan proses serta kapasistas memori yang dibutuhkan oleh berbagai algoritma pengolahan citra.

Beberapa pendapat tentang pengertian pengolahan citra digital :

1. Rinaldi Munir (2004:12) dalam bukunya mengemukakan beberapa contoh aplikasi bidang ini di berbagai disiplin ilmu yaitu :dalam bidang kedokteran system untuk mendeteksi diagnose suatu kelainan dalam tubuh manusia melalui gambar yang dihasilkan oleh sutu scanner. Kegiatan pengolahan citra dimulai dari pembentukan model matematik suatu objek sampai dengan teknik analisis dari teknik klasifikasi berbagai jenis objek.

2. Menurut kamus Webster, citra = gambar = image Citra, adalah suatu representasi, kemiripan, atau imitasi dari suatu objek atau benda misalnya foto anda mewakili identitas diri anda sendiri di depan kamera. Citra dari sudut pandang matematis, merupakan fungsi menerus (continue) dari intensitas cahaya pada bidang dua dimensi. Citra dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, citra tampak dan tidak tampak. Citra digital merupakan citra yang disimpan dalam bentuk format digital (dalam bentuk file). Hanya citra digital yang dapat diolah menggunakan computer. Jenis citra lain jika akan diolah dengan computer harus diubah menjadi citra digital.

3. Citra digital merupakan representatif dari citra yang diambil oleh mesin dengan bentuk pendekatan berdasarkan sampling dan kuantisasi. sampling pada citra menyatakan besar kecilnya ukuran pixel (titik) pada citra, dan kuantisasi menyatakan besarnya nilai tingkat kecerahan yang dinyatakan dalam nilai tingkat keabuan (grayscale) sesuai dengan jurnlah bit biner yang digunakan oleh mesin.(Basuki, 2005:4)

Beberapa jenis- jenis citra digital yang sering digunakan adalah :

  1. Citra Biner (Monokrom). Banyaknya dua warna, yaitu hitam dan putih. Dibutuhkan 1 bit di memori untuk menyimpan kedua warna ini.
  2. Citra Grayscale (Skala Keabuan). Banyaknya warna tergantung pada jumlah bit yang disediakan di memori untuk menampung kebutuhan warna ini. Semakin besar jumlah bit warna yang disediakan di memori, semakin halus gradasi warna yang terbentuk.
  3. Citra Warna (True Color). Setiap piksel pada citra warna mewakili warna yang merupakan kombinasi dari tiga warna dasar (RG8 = Red Green Blue). Setiap warna dasar menggunakan penyimpanan 8 bit = 1 byte, yang berarti setiap warna mempunyai gradasi sebanyak 255 warna. Berarti setiap piksel mempunyai kombinasi warna sebanyak 28 x 28 x 28 = 224 =16 juta warna lebih. Itulah sebabnya format ini dinamakan true color karena mempunyai jumlah warna yang cukup besar sehingga bisa dikatakan hampir mencakup semua warna di alam.

Putu Abhi Brahmarta (011609045)

Warna Digital

Dasar – Dasar Warna Digital

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Melesetnya pewarnaan sering terjadi pada pembuatan desain dengan komputer. Untuk aplikasi cetak biasanya hanya dipakai gabungan warna CMYK, sedangkan di layar monitor menggunakan RGB, HLS, Hexadesimal dan lain-lain. Berikut adalah sistem atau model warna, antara lain: RGB (Red Greed Blue), CMYK (Cyan Magenta Yellow Black), HLS (Hue Lightness Saturation), LAB Color -Lightness A (green-red axis), B (blue-yellow axis) dan RGB Hexadecimal

Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap campuran tiga warna primer cahaya: merah, hijau, biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 0% hijau, dan 100% biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta. Berikut adalah jenis – jenis warna :

1. Warna Primer

Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning.

2. Warna Sekunder

Merupakan hasil pencampuran warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.

3. Warna Tersier

Merupakan campuran salah satu warna primer dengan salah satu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.

4. Warna Netral

Warna netral merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1. Warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna-warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.

Berdasarkan kondisi jenis-jenis warna, warna dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Warna Netral

Warna netral adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam komposisi tepat sama.

2. Warna Kontras

Warna kontras adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya. Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan menolah nilai ataupun kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning dengan ungu.

3. Warna Panas

Warna panas adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol, riang, semangat, marah dsb. Warna panas mengesankan jarak yang dekat.

4. Warna Dingin

Warna dingin adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol kelembutan, sejuk, nyaman dsb. Warna sejuk mengesankan jarak yang jauh.

Warna-warna dasar digital (RGB) diatas biasa digunakan dalam pengolahan citra digital (digital image processing). RGB dapat digunakan dalam bidang disiplin ilmu yang dikemukakan oleh Rinaldi Munir (2004:12) dalam bukunya yaitu :

1. 1. Bidang kedokteran

Digunakan untuk mendeteksi diagnosa suatu kelainan dalam tubuh manusia melalui gambar yang dihasilkan oleh suatu gambar scanner.

2. 2. Bidang industri

Digunakan untuk memeriksa kualitas suatu produk melalui kamera video

3. 3. Bidang Perdagangan

Digunakan untuk mengenal huruf atau angka pada suatu formulir secara otomatis oleh suatu mesin pembaca.

4. 4. Bidang Militer

Digunakan sebagai sistem pengenalan target peluru kendali melalui sensor visual.

5. 5. Bidang biologi

Digunakan untuk pengenalan jenis kromosom melaui gambar mikroskop.

RGB digital sangat diperlukan dalam pengolahan citra digital (digital image processing), yaitu dalam pengoperasian pengolahan citra digital seperti:

1. Perbaikan kualitas citra (image enhancement), contohnya perbaikan kontras gelap/terang, penajaman (sharpening), dan perbaikan tepian objek (edge enhacement).

2. Restorasi citra (image restoration), contohnya penghilangan kesamaran (debluring)

3. Pemampatan citra (image compression)

4. Segmentasi citra (image segmentation)

5. Pengorakan citra (image analysis), contohnya pendeteksi tepi objek (edge enhacement) dan ekstraksi batas (boundary)

6. Rekonstruksi citra (image recronstruction)

Adapun contoh deskripsi dari penggunaan RGB dalam pengolahan citra yaitu sebagai berikut : setiap warna dasar, misalnya merah, dapat diberi rentang-nilai. Untuk monitor komputer, nilai rentangnya paling kecil = 0 dan paling besar = 255. Pilihan skala 256 ini didasarkan pada cara mengungkap 8 digit bilangan biner yang digunakan oleh mesin komputer. Dengan cara ini, akan diperoleh warna campuran sebanyak 256 x 256 x 256 = 1677726 jenis warna. Sebuah jenis warna, dapat dibayangkan sebagai sebuah vektor di ruang 3 dimensi yang biasanya dipakai dalam matematika, koordinatnya dinyatakan dalam bentuk tiga bilangan, yaitu komponen-x, komponen-y dan komponen-z. Misalkan sebuah vektor dituliskan sebagai r = (x,y,z). Untuk warna, komponen-komponen tersebut digantikan oleh komponen R(ed), G(reen), B(lue). Jadi, sebuah jenis warna dapat dituliskan sebagai berikut: warna = RGB(30, 75, 255). Putih = RGB (255,255,255), sedangkan untuk hitam= RGB(0,0,0).

Putu Abhi Brahmarta (011609045)